google-site-verification: googlee10025ebf65670c5.html 0812.8337.2796 BERTUMBUH - Heldin Manurung

3


BERTUMBUH
(Amsal 11:28)

Yang dimaksudkan bertumbuh dalam hal ini adalah pertumbuhan dalam segala aspek kehidupan anak-anak Tuhan, tetapi terutama dalam pertumbuhan rohani.

Pertumbuhan manusia seutuhnya haruslah dimulai dari roh manusia itu sendiri, yakni menyangkut hati yang berhubungan dengan mentalitas manusia.

Pertumbuhan manusia seutuhnya haruslah memperhatikan tiga unsur terbentuknya sebuah oknum yang disebut manusia. Ketiga unsur tersebut adalah: roh, jiwa dan tubuh.

Pertumbuhan manusia harus diperhatikan keseimbangan pertumbuhan ketiga unsur tersebut. Ketimpangan pertumbuhan ketiga unsur tersebut menimbulkan masalah dalam kehidupan seseorang.

Penyakit manusia timbul dari masalah yang terjadi terhadap roh, jiwa dan tubuh manusia. Pada umumnya seseorang yang mengalami ganggunguan terhadap rohnya biasanya dibawa kepada seorang rohaniwan atau imam, atau penatua untuk menyembuhkannya.

Seseorang yang mengalami gangguan terhadap jiwanya, biasanya dibawa kepada seorang psikiater atau psikolog.

Dan seseorang yang mengalami gangguan terhadap tubuhnya atau penyakit jasmani biasanya dibawa kepada seorang dokter medis. Intinya pertumbuhan seseorang harus diperhatikan kesehatan dari ketiga unsur manusia itu sendiri.

Seorang manusia yang sehat dalam pertumbuhannya adalah orang yang hidup utuh dalam artian memperhatikan kesehatan dan keseimbangan roh, jiwa, dan tubuhnya. Untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan pertumbuhannya diperlukan makanan yang seimbang, kebutuhan yang seimbang, dan adanya pola hidup yang mengontrolnya, dan hukum yang mengaturnya.

Seorang manusia yang hidup tanpa pola hidup yang baik dan jelas tidak akan mengalami pertumbuhan yang benar sesuai kehendak Tuhan. Seorang manusia yang sedang menjalani hidupnya tanpa hukum atau aturan dari Tuhan tidak mungkin mengalami pertumbuhan yang benar sesuai kehendak Tuhan.

Marilah kita menjalani hidup dengan petumbuhan yang seimbang dengan pola hidup Kristen sesuai firman Tuhan, dan mengikuti hukum dan aturan, yakni firman Tuhan.

Pertumbuhan rohani kita haruslah selaras dengan firman Tuhan. Tuhan telah menyatakannya dalam firman-Nya bahwa Dia telah menentukan kita menjadi serupa dengan-Nya. Oleh karena itu setiap perkataan Tuhan yang disampaikan kepada kita akan merangsang pertumbuhan rohani kita.

Yang pasti bahwa Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk melakukan tindakan atau kegiatan yang menghalangi pertumbuhan rohani kita.

Bila ada sesuatu yang kita lakukan atau kegiatan kita yang menghalangi pertumbuhan rohani kita, perlu kita kaji ulang jangan-jangan hal itu bukan perkataan Tuhan. Bisa jadi hal itu berasal dari pikiran kita sendiri.

Pertumbuhan rohani yang sehat ditandai dengan sebuah tanda yang bisa kita raksakan langsung dalam jiwa kita, yaitu perasaan tenang, damai sejahtera.

Walau pun kita hidup di dunia yang kelihatannya kacau, tetapi kita tetap merasa ada damai sejahtera dalam jiwa kita  karena roh kita sehat dalam pertumbuhannya karena terhubung dengan kekuatan supra natural, sumber damai sejahtera. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus sebagai “Damai sejahtera yang melampaui segala akal” (Fil 4:7).

Hal itulah yang menjaga kita, melindungi kita bagaikan benteng yang kuat menjaga kita dari ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, kekacauan dunia dimana kita hidup sementara ini.

Ketika damai sejahtera semacam itu menguasai hidup kita maka kita tahu bahwa pertumbuhan rohani kita sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak akan pernah merasakan damai sejahtera Allah jika kita tidak mengikuti kehendak Allah yang adalah sumber damai sejahtera itu.

Boleh saja seseorang memercayai jalan pikirannya sendiri, namun dia tidak akan pernah memiliki damai sejahtera Kristus. Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose: “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:15)

Manusia adalah Mahluk Tiga Dimensi

Bila seseorang berkata ‘saya’, semestinya diperjelas apa yang dimaksud dengan kata ‘saya’, karena manusia itu merupakan mahluk tiga dimensi. Manusia disebut mahluk tiga dimensi karena manusia itu sesungguhnya terdiri atas tiga kedirian (saya), yakni manusia roh, manusia jiwa, dan manusia daging (tubuh).

Roh manusia adalah milik Allah. Roh itu diberikan oleh Allah pada saat penciptaan manusia pertama Adam. Bila manusia jasmani itu mati maka roh manusia itu kembali kepada pemiliknya, Allah.

Jiwa manusia (akal budi) adalah ‘saya’ yang sesungguhnya. Jiwa manusia menyatakan dirinya melalui perbuatan yang dikendalikan oleh pikiran dan hati yang disalurkan melalui panca indera.

Sedangkan manusia jasmani adalah ‘saya’ yang diciptakan Allah dari debu tanah pada saat penciptaan manusia pertama Adam. Manusia jasmani merupakan wadah manusia jiwa dan manusia roh bersatu, hidup, berkarya untuk kemuliaan Tuahan. Manusia jasmani itu merupakan rumah sementara bagi jiwa (saya), dan roh (saya).

Disebut rumah sementara karena nanti Allah akan menyediakan dan memberikan rumah kekekalan di surga. Demikianlah kita harus mengenal ‘saya’ yang sesungguhnya dalam diri manusia.